ANALISAPOS. COM, Internasional-
Jika Amerika Serikat benar-benar menyerang Iran, dunia tidak sedang menyaksikan operasi militer biasa, melainkan awal dari kekacauan global. Ini bukan lagi konflik dua negara, tetapi percikan api yang bisa membakar Timur Tengah dan mengguncang dunia.
Iran bukan negara lemah yang bisa dipukul lalu tunduk. Serangan Amerika hampir pasti dibalas. Pangkalan militer AS di Timur Tengah, kapal perang di Teluk, hingga sekutu-sekutunya akan menjadi sasaran. Dalam hitungan jam, konflik bisa melonjak dari satu serangan menjadi perang regional terbuka.
Masalahnya, Iran tidak sendirian. Teheran memiliki jaringan sekutu yang tersebar dari Lebanon, Irak, Suriah, hingga Yaman. Jika Iran diserang, api konflik akan menyala di banyak titik sekaligus. Israel hampir mustahil menghindar. Roket, serangan lintas batas, dan eskalasi besar-besaran bisa terjadi, mengubah konflik terbatas menjadi perang tanpa kendali.
Negara-negara Arab justru berada dalam posisi paling rawan. Banyak dari mereka menolak perang, tetapi wilayahnya menjadi rumah bagi pangkalan militer Amerika. Jika Iran membalas, bukan Washington yang pertama merasakan dampaknya, melainkan tanah Arab itu sendiri. Ironisnya, kawasan ini kembali menjadi arena perang atas keputusan kekuatan besar.
Di luar Timur Tengah, Rusia dan China tidak akan diam. Mereka mungkin tidak mengirim pasukan, tetapi dukungan politik, senjata, dan tekanan diplomatik terhadap Amerika hampir pasti meningkat. Jika itu terjadi, konflik Iran-AS berubah menjadi pertarungan kepentingan global, bukan sekadar urusan kawasan.
Dampaknya akan terasa ke seluruh dunia. Harga minyak melonjak, ekonomi global terguncang, inflasi naik, dan negara berkembang ikut menanggung beban. Rakyat biasa akan membayar mahal dari keputusan politik yang mereka tidak pernah ikut tentukan.
Yang paling berbahaya adalah ilusi bahwa perang bisa dikendalikan. Sejarah menunjukkan, perang besar sering dimulai dari satu serangan yang dianggap terbatas, lalu berubah menjadi bencana karena ego dan salah hitung.
Jika Amerika menyerang Iran, itu bukan simbol kekuatan, melainkan kegagalan diplomasi dunia. Saat senjata berbicara, akal sehat biasanya berhenti. Dan ketika itu terjadi, yang kalah bukan hanya Iran atau Amerika, melainkan stabilitas dunia dan kemanusiaan itu sendiri. (Sai).






